jump to navigation

Sekolah Tinggi-tinggi Membuat Pintar? 18 April, 2008

Posted by kangbayu in Uncategorized. trackback

Banyak orang menyimpulkan pintar itu identik dengan serba tahu sehingga tidak pernah perlu bertanya. Ini paham yang sesat… orang justru bisa menjadi pintar dengan banyak-banyak bertanya. Dan setelah pintarpun, kebiasaan ini tidak akan berubah.

Suatu hari, diatas bis 213 menuju kantor…

Seorang pemuda yang berdiri dikoridor bis itu sebelah matanya tidak bisa menutup dengan pas… pandangannya dari mata ini juga terlihat “kosong”, dan ada kilatan yang aneh… jadi bisa saya perkirakan kalau matanya itu hanyalah mata keramik, sama seperti yang dimiliki oleh salahseorang rekan kerjaku dulu, di perusahaan yang lama. Temanku itu dulu, sebutlah Heri, kehilangan matanya dalam suatu peristiwa kecelakan…. Namun anehnya, walaupun memiliki hanya sebelah mata namun kemampuan kerjanya bagus… bahkan kerapian dan ketekunannya jauh diatasku yang pemalas ini. Aneh… heran… padahal Heri “hanyalah” lulusan dari perguruan tinggi swasta yang dulu namanyapun aku tidak tahu… beda denganku yang lulusan dari sebuah perguruan negeri ternama yang terkadang dengan menyebut namanya saja, sudah mengundang reaksi berlebih dari orang yang kita ajak bicara.

Jadi apa sebenarnya perbedaan diantara kami? Dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan ketrampilan khusus ini, ternyata ia memiliki performance yang lebih baik dariku. Padahal matanya hanya satu… yang mana dalam teori, berarti pandangannya itu tidak stereo, alias kemampuan melihat secara 3 dimensinya akan berkurang banyak…. Hehehe… jadi teringat peristiwa dahulu sewaktu masih duduk dibangku SD. Dalam permainan bola, ada seorang temanku, sebutlah Tedi, yang sebelah matanya harus ditutup perban sehingga hanya sebelah matanya saja yang bisa melihat. Waktu itu ada umpan lambung dari pemain belakang kearah Tedi, dan ternyata ia hanya bisa berdiri tergagap lalu menyundul angin, karena bolanya masih berjarak sekitar setengah meter didepan dia… itulah salahsatu hal yang mungkin terjadi kala daya pandang kita berkurang dari stereo, menjadi mono.

Kembali ke masa-masa kuliah, dari pengamatanku sendiri aku melihat, bahwa tidak semuanya mahasiswa yang katanya disaring dengan ketat ini, memiliki semangat belajar yang tinggi… Dan akhirnya pun, setelah bersusah payah bergelut memperebutkan 86 kursi dari sekitar 5000an peminat, banyak diantara teman-temanku ini yang berguguran… Kalau bukan karena alasan klasik; dana, alasan lainnya yang umum adalah hilangnya minat. Wow… mungkin kalau dari dulu kursinya itu diserahkan pada peminat lain, akhirnya tidak akan seperti itu dan negara tidak keluar uang dengan sia-sia (jaman itu biaya kuliah sebagian ditanggung negara)… Tapi yah itulah dinamika hidup dimasa lulus SMA… berlomba-lomba ikutan ujian masuk Perguruan Tinggi, mengadu kemampuan diantara ratusan ribu lulusan lainnya, untuk mendapatkan pendidikan tinggi baik yang murah… karena kalau tidak, mungkin biaya tak akan terbayar, dan otomatis jika tanpa gelar, maka mencari pekerjaan yang layak di Indonesia adalah hal yang sangat sulit… Atau mendapat sekolah swasta yang kurang baik, dan akhirnya terbawa nyungsep.

Tapi dari hasil pengamatan pula, ternyata dari sekian banyak lulusanpun, tidak semuanya memiliki kualitas yang memuaskan… ada rekan yang lantas merasa kalah setelah berjuang bertahun-tahun tidak mendapat kerja, lantas memilih pulang kampung untuk membuka warnet dengan modal dari orang-tua. Ada rekan yang merasa kurang kompeten dibidangnya, lantas banting setir ke bidang lain (diketik sambil mengamati bayangan diri di cermin).

Sistem penyaringan UMPT yang salah…

Adalah suatu kesalahan dalam sistem penyaringan masuk mahasiswa di perguruan2 tinggi, yang menyebabkan hanya terujinya sebagian saja dari kualitas yang diperlukan, dan terabaikannya kualitas-kualitas yang lain. Tapi apa sih buatan manusia yang sempurna? Semuanya penuh dengan tambal sulam dan bongkar pasang… tapi kalau itu yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu, maka sewajarnya itulah yang harus dipakai…

Jadi ketika seorang calon mahasiswa dinyatakan lulus ujian menggambar, ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta serangkaian psikotest, maka iapun dianggap memiliki sebagian besar dari faktor-faktor yang diperlukan baginya untuk menempuh kehidupan sebagai seorang mahasiswa Seni Rupa / Desain. Masalah apakah ia memiliki kemampuan untuk menamatkan, atau bahkan untuk berkembang menjadi ahli dibidangnya, adalah suatu hal yang akan diurus kemudian…

Dan bagi si mahasiswa sendiri, apakah penerimaan ini berarti perjuangan selesai?

Sayangnya banyak yang menganggap demikian… Padahal tahun-tahun ia menjalani kuliah adalah tahun yang membutuhkan kerja keras dan daya juang… bukan semata-mata karena ia adalah mahasiswa maka pe-ernya harus lebih banyak… tapi karena kelulusan tanpa kualitas, adalah seperti cangkang tanpa isi… si kulit mungkin saja indah, dan membantunya untuk mendapatkan banyak kesempatan di dunia kerja, terima kasih kepada prestasi baik yang telah dibangun oleh para seniornya dari tahun ketahun… Namun bekerja, itu bukanlah pameran cangkang… kerja justru lebih, dan sangat terkait dengan “isi” dari si lulusan; yaitu kualitas wawasan dan skill (ketrampilan) dari si siswa.

Itulah sebabnya, mengapa mereka yang kurang beruntung dalam perolehan tempat kuliah, mereka yang putus kuliah, mereka yang bahkan tidak sempat mengenyam bangku kuliah, masih bisa bersaing dengan mereka yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi terkenal jika memiliki “isi” yang memang berkualitas! Bill Gates misalnya, pendiri Microsoft sekaligus salahsatu manusia terkaya dimuka bumi ini, bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya…

Namun tentunya, mereka yang memiliki cukup bekal dan persiapan adalah mereka yang lebih mungkin untuk berhasil. Dunia banyak dipenuhi cerita mengenai mereka yang oh so brilliant sehingga bisa mencapai prestasi luar biasa yang mengalahkan kolega-koleganya yang lulusan perguruan terkenal. Namun jangan lupa bahwa mereka para “anomali” ini hanyalah sebagian kecil dari orang-orang brilliant yang pernah, sedang, dan akan menorehkan tintanya pada sejarah dunia. Dan banyak diantara orang-orang ini adalah orang yang terpelajar.

Jadi kalau ternyata antara lulusan sekolah ternama dan lulusan sekolah antah berantah dan nggak lulus sekolah, semuanya bisa bersaing dengan kekuatan yang berimbang… lantas dimanakah bedanya? Apakah hal yang sebenarnya mendasari keberhasilan seorang manusia?

“USAHA DAN DAYA JUANG”

Perguruan Tinggi manapun hanyalah berfungsi sebagai suatu pemberi kesempatan, kesempatan pada mahasiswanya untuk mendapat akses terhadap materi-materi pembelajaran yang langka, yang sekiranya tidak bisa atau sulit untuk diakses oleh rekan-rekan sejawatnya yang tidak sekolah. Kesempatan untuk berinteraksi dengan para dosen yang memiliki segudang pengalaman dan ilmu, kesempatan untuk bergaul dengan sesama mahasiswa yang memiliki ketertarikan beragam, kesempatan mendapatkan peluang-peluang khusus dari dunia industri yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, dan serangkaian kesempatan-kesempatan lain yang tidak dengan mudah bisa didapat oleh mereka berada diluar dunia perguruan tinggi…

Namun sebagaimana halnya kesempatan, maka ia baru akan memberikan hasil jika disambut dan dimanfaatkan… Jadi ketika disatu sisi perguruan tinggi bertugas untuk menyediakan segudang kesempatan, maka selebihnya adalah tanggung-jawab si mahasiswa sendiri untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut.

Malas? Statik? Mungkin masih bisa memperoleh ijazah… tapi pepesan kosong, cangkang tanpa isi, toples isi angin, dummy henpun di etalase, pistol padahal geretan, a bluff.

Nggak kuliah tapi tetap teguh kukuh dalam belajar? Kebetulan saya memiliki contoh yang sangat dekat dari ibunda yang “cuma” lulusan sekolah setingkat SMA, tapi di masa-masa puncak karirnya ternyata mampu untuk “menggebrak” cukup keras… Selain memiliki sekolah pendidikan sekaligus menjadi pengajarnya, memiliki beberapa lulusan master sebagai asisten, beliau juga membentuk perusahaan yang sanggup membantu pemerintah menyelenggarakan program-program nasional, hingga mengorganisir konferensi bertaraf internasional. Itulah kekuatan daya juang…

Sedangkan anaknya ini, hehe… banyak peluang terlewatkan karena beragam alasan… takutlah, malaslah, nggak pede lah… hal-hal yang sering membuat ibunda geram dan geregetan karena merasa saya ini memiliki potensi… tapi kurang memiliki nyali…

Maap ya bu, tapi saya sedang belajar berani juga koq…

Mengganti cara pandang…

Kembali ke masalah kedudukan perguruan tinggi sebagai institusi pemberi kesempatan, maka sebenarnya dunia kerja kita sekarangpun (buat yang sudah bekerja), adalah suatu institusi lain yang juga menawarkan beragam kesempatan… kesempatan berlatih memanage kerjaan, kesempatan berlatih berinteraksi dengan rekan kerja, kesempatan berlatih menghadapi client, kesempatan berkomunikasi dan menyerap ilmu client, kesempatan berlatih bidang kerja yang tadinya diluar skill dasar kita, kesempatan mengenal beragam karakter manusia, kesempatan mengenal politik kantor dan politik dunia kerja secara umum, dan kesempatan-kesempatan lainnya yang menunggu untuk kita manfaatkan.

So, siap untuk sejenak mengganti cara pandang anda, dan tela’ah kesempatan apa saja yang sebenarnya menanti dibalik segala rutinitas yang anda geluti saat ini? Dibalik hal-hal yang anda takuti dan hindari? Siapa tau anda malah menemukan “sesuatu” yang tadinya tak terpikirkan, kesempatan-kesempatan yang malah berpotensi untuk mengubah jalan hidup anda.

Selamat mikir! Dan jangan lupa untuk terus berkarya, selagi masih ada waktu, tenaga, dan kesempatan. (bay)

Komentar»

no comments yet - be the first?