Intuisi, Pentingkah? 18 April, 2008
Posted by kangbayu in Uncategorized. trackbackJadi inget salahsatu adegan di film “V for Vendetta”, waktu si kepala polisi ditanya sama Chairman, apa yang mendasari pemikiran kalau V bakalan nyerang melalui jalur KA subway yang telah ditutup? Dijawabnya “intuition” (or something alike). Terang aja si Chairman langsung nyinyir dan nyepelein masalah intuisi ini…
Benarkah intuisi itu gak penting?
Intuisi atau kadang disamakan dengan firasat, atau kadang orang bilang insting, adalah semacem bentuk perasaan yang entah gimana datengnya atau munculnya, tapi kira ngerasa itu bener.
Memang bagi manusia yang dah lama hidup secara gak “manusiawi”, kekuatan insting ini bisa sangat melemah, atau malah sengaja dibunuh si-pemilik karena merasa “Logic is God”; segala sesuatu haruslah terukur, terhitung, haruslah mempergunakan rumus baku, dll. Sehingga hal yang muncul dari alam bawah sadar ini (atau dari “indera ke-enam”) seringkali tidak memiliki tempat dalam pengambilan keputusan yang dilakukan si manusia.
Namun jangan lupa juga… alam pikiran manusia itu tidak semata-mata berisi tools untuk berhitung matematis, logis, dll., yang dunia ilmu modern ketahui adalah fungsi-fungsi umum dari otak bagian kiri. Manusia memilki juga otak bagian kanan, yang berfungsi secara lebih abstrak, misalnya pada penguasaan bahasa, penguasaan seni, serta kreativitas. Keseimbangan antara keduanyalah yang sebenarnya penting… walaupun seringkali pendidikan kita masih terlalu lugu untuk menyadari hal ini, sehingga tak jarang sekolah justru menjadi tempat pembodohan kelas wahid!
Selain dari dua hemisphere otak ini, jangan lupa juga bahwa otak bekerja tidak secara linear… dan bahwa memori yang disimpan diotak, tidaklah harus data-data biner layaknya pada otak komputer. Sudah tentu media penyimpanan otak manusia memiliki dimensi yang lebih luas dalam kemampuannya ini, karena ia bisa juga mengingat bau… raut muka… rasa… atau hal-hal yang tidak disadarinya namun muncul sebagai “kayaknya ada yang familiar deh sama dia ini…”.
Pembelajaran manusia sendiri seringkali menyisakan hanya intisari dan elemen-elemen dari apa yang pernah kita lakukan dan pelajari. Hasil penelitian juga menunjukkan kalau terkadang, otak justru lebih aktif pada saat si empunya tertidur… Apa yang kemudian dipercayai, adalah pada saat ini si otak sedang secara aktif melakukan linking antar sel-selnya, atau lebih tepatnya, antara fragmen-fragmen informasi yang ia pelajari hari itu, terhadap fragmen-fragmen informasi yang telah ada sebelumnya dalam bank datanya. Inilah yang membuat otak manusia memiliki kemampuan berpikir yang melebar dan meluas… berbeda dengan otak komputer yang cenderung linear dan tidak auto-managing.
Apa yang kita pelajari secara sadar, dan diulang-ulang selama sekian lama, akan menimbulkan suatu jenis memori bawah sadar yang ketika diaktifkan, maka ia akan “terjadi” tanpa harus kita pikirkan lagi bagaimana caranya. Contohnya disini misalnya, dalam studi beladiri… Suatu gerakan jurus yang kita lakukan secara rutin, lama-kelamaan bisa keluar mengalir lancar tanpa perlu kita pikirkan lagi detailnya… apakah kaki kiri melangkah duluan, kaki kanan melangkah duluan? Selanjutnya diikuti dengan tangkisan tangan kiri? Atau kanan? Itulah sebabnya mengapa dalam disiplin ilmu beladiri, ban hitam atau “black belt” sebenarnya bukanlah pencapaian tertinggi dari si pelajar… namun justru tingkatan yang menyatakan kalau ia telah “menguasai teknik-teknik dasar, dan siap untuk belajar seni-nya”.
Begitu pula halnya terhadap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari… atau secara rutin… atau kita pelajari betul sehingga mengerti luar-dalam mengenainya… maka pasti akan ada suatu kesimpulan bawah sadar yang kemudian terbentuk, disimpan entah dimana, dan kemungkinan akan tiba-tiba muncul ketika algoritma sensor diotak kita mendeteksi serangkaian “flag”, atau ciri-ciri khas, yang kemudian membangkitkan kesimpulan bawah sadar tersebut. Sulit dimengerti memang, apalagi untuk dipetakan… namun kesimpulan bawah sadar ini sebenarnya adalah suatu bentuk kecanggihan manajemen data dari sang otak… yang membuat si manusia tidak mudah merasa over-loaded dengan informasi yang ia miliki, karena semuanya itu secara rutin disederhanakan oleh sang otak kepada suatu bentuk pemahaman yang abstrak. Inilah intuisi… buah pemahaman abstrak dari hasil pembelajaran intensif kita terhadap suatu permasalahan.
Maka jangan aneh kalau sang bunda bisa menebak anda sedang berbohong atau tidak
Jangan aneh kalau anda bisa merasa akrab pada seseorang padahal baru bertemu sekali
Mengetahui akhir dari suatu proyek padahal samasekali belum dimulai
Menebak selera client berdasarkan gaya bicaranya
Dan lain-lain…
Ada orang yang lantas meremehkan intuisinya ini sehingga kehilangan suatu feature penting dari otak… Ada juga yang lantas menyerah pada intuisinya sehingga apa-apanya terlalu berpaku pada intuisi… Padahal… Intuisi, bagaimanapun, secara general adalah “kerak” dari hasil proses pembelajaran manusia… Jika yang ia pelajari selama ini sudahlah benar, maka biasanya intuisinya juga tepat… namun jika selama ini sipemilik jarang belajar, maka intuisinya juga akan tumpul atau tidak tepat….
Dan jangan juga lalai… “rasa” dari intuisi tidaklah berbeda jauh dengan “rasa” dari emosi, takut, khawatir, yang semuanya adalah abstrak dan sama-sama berasal dari alam bawah sadar. Namun dengan pembelajaran juga, kita akan mudah mengenali mana yang intuisi, mana yang firasat, mana yang negativisme, mana yang dari setan, mana yang sekedar produk dari mekanisme kekhawatiran, dll.
Pada hewan, kasusnya lebih simple… pemikiran mereka biasanya murni intuitif sehingga dalam mengeksekusinya seringkali tidak ada keraguan. Melihat ada mahluk asing dekat anaknya yang masih bayi? SERUDUK! Melihat ada pejantan lain didaerah kekuasaan? SERANG! Tanpa ada pikir panjang apakah si mahluk asing tadi mungkin hanyalah reporter dari Geographic Channel yang kagum akan keindahan rupa anaknya, atau justru anggota WWF yang berniat menyelamatkan si hewan dari kepunahan.
Pada manusia… intuisi juga sebenarnya penting… karena ia bisa memberikan informasi dan “bocoran” terhadap apa yang sedang kita hadapi… Pada mereka yang memang terlatih, intuisi ini seringkali bisa membantu menyelesaikan masalah yang membutuhkan banyak waktu jika dilakukan oleh orang awam…
Namun bagi kita yang masih belajar… janganlah intuisi ini dijadikan “fatwa” atau belenggu, tapi cukup sebagai referensi dan peringatan… apalagi kalau kita masih belum bisa membedakan yang mana intuisi, yang mana “setan”, yang mana “malaikat”.
Ada orang yang keliatannya gak pernah kaget ngadepin kejutan apapun? Mungkin karena ia cukup memperhatikan apa kata intuisinya, dan diam2 dalam otaknya sudah tersusun “plan B” untuk mengantisipasi seandainya “bisikan nalurinya” memang terjadi…. Ada orang yang keliatannya tau betul peluang bisnis mana yang paling tepat buat dijalanin? Mungkin karena hal yang sama juga.
Tapi kala ada orang yang kerjaannya curiga melulu sama orang lain? Nganggap buruk terus sama orang lain? Itu bukan intuisi, itu NEGATIVISME.
Tambahan:
Bisa jadi juga bahwa salahsatu hasil dari proses pembelajaran manusia, adalah otak membentuk semacam “template-template”. Jadi ketika sensor otak mendeteksi munculnya elemen-elemen yang familiar dan cocok dengan elemen-elemen template tersebut, maka ia akan menelorkan suatu dugaan awal bahwa bentuk akhir dari perkara yang baru akan terjadi tersebut akan serupa dengan template yang sudah tercetak dalam memorinya tersebut, alias sudah bisa diperkirakan bagaimana akhirnya.
Dan bisa jadi kualitas dari sensor maupun ketepatan dari perkiraan ini ya tergantung pada seberapa baiknya proses belajar yang sudah dijalani si manusia.
Sekian. (bay)
Dari: http://kangbayu.multiply.com/journal/item/370
Komentar»
no comments yet - be the first?