jump to navigation

Creativism Disorder 18 April, 2008

Posted by kangbayu in Uncategorized. trackback

Waktu sakit dan males ngapa-ngapain, salahsatu kegiatan wajib gw adalah catching up ama koleksi DVD yang selalu bertambah tapi gak pernah ditonton-tonton. Sekarang sih gw rada random dan cuek dalam milih film… beda sama dulu ketika gw bakalan beli film cuma kalau film itu masuk top list nya imdb.com. Pertimbangannya dulu; time is precious! Dua jam yang gw habiskan nonton film gak mutu adalah sama dengan ngurangin sisa umur gw dua jam buat kegiatan gak mutu! Plus, walaupun cuma goceng, duit is duit.

Tapi karena jumlah film bermutu makin berkurang… plus makin sulitnya nemu film indie atau oldies yang bagus di pasaran, maka kriteria gw dalam milih film pun makin melonggar. Terlebih, dengan semaraknya genre baru di pasaran DVD bajakan Jakarta: Asian movies. Sayangnya, susah nyari review atas film2 Asia… padahal kualitas karya sineas Jepang, Korea, Thailand, sudah jauh lebih maju dan bisa dibilang setara dengan rekan-rekannya di Eropa dan Amrik sono… plus, banyak film Asia berani buat menampilkan ide yang original dalam ceritanya… suatu oase yang hijau ditengah kegersangan tema perfilman Barat dengan Hollywodism-nya yang mulai basi, yang seringkali asik dimata tapi nggak menggugah.

Salahsatu film yang masuk dalam daftar tunggu ini adalah film Korea (Selatan) yang berjudul “Marathon”. Setelah gw terkagum-kagum setengah mampus dengan “Musa”, “Fighter in The Wind”, dan terhibur dengan film-film ringan semacem “My Sassy Girl”, maka kemunculan film Korea di pasaran termasuk salahsatu yang gw tunggu-tunggu.

Marathon” (2005) diangkat dari kisah nyata, menceritakan kehidupan Cho-Won, seorang penderita autis yang sejak kecil dilatih oleh ibunya untuk menjadi seorang jago lari. Kebiasaan ini ternyata membantu perkembangan pribadi si anak, menjadi lebih stabil dan berprestasi. Setelah melalui serangkaian drama terkait masalah keluarga dan cinta-kasih, cerita mencapai klimaksnya dalam event lomba marathon dimana Cho-Won berhasil memasuki garis finish dalam waktu dibawah tiga jam, suatu prestasi yang sulit diraih oleh pelari marathon profesional sekalipun. Prestasi ini sekaligus memecahkan rekor nasional Korea Selatan. Suatu film yang mengharukan…

Kreativitas itu suatu kelainan medis?

Satu hal lain yang cukup membekas dalam pikiran setelah menyaksikan film ini, adalah perkataan ibu guru Cho-Won mengenai Autisme… Bahwa penderita kelainan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Nyaris tidak memiliki interest terhadap apapun
  2. Sulit untuk berkonsentrasi
  3. Hidup dalam dunianya sendiri

Somehow uraian tersebut membuat gw mikir, terkait dengan salahsatu tulisangw lainnya, dimana gw mengutip salahsatu artikel kedokteran mengenai “miripnya kondisi otak seorang penderita kelainan jiwa, dengan seorang yang dianggap kreatif” (nag lho!). Para ahli menduga, orang-orang kreatif sebenarnya memiliki kerusakan jaringan otak, dalam taraf yang sama rusaknya dengan yang terdapat pada para pasien gangguan kejiwaan!Sementara kalau dipikir-pikir, dunia telah mengenal baik adanya suatu anggapan umum mengenai para seniman / desainer / penulis / artis, dan profesi lainnya terkait kreativitas, yang menyatakan bahwa mereka hanya bisa berkarya kalau sudah “dapet wangsit”. Sekedar mitos? Go ask ur creative friends.

Pendidikan terstruktur memang dapat membantu mengurangi kesenjangan yang membuat profesi kreatif memiliki pijakan lebih solid dibanding sekedar wangsit yang turun tanpa bisa diduga kapan waktunya, atau ketergantungan terlalu tinggi pada siklus bulan / air pasang / horoskop / dan hal-hal abstrak lainnya. Dengan pendidikan, si kreatif akan dilatih untuk memperlengkapi dirinya dengan beragam tools untuk menjaring hal abstrak nan langka yang bernama “ide unik”, tanpa harus berguru pada dukun maupun daun ganja.

Namun walaupun telah terdidik dan terlatih, tak jarang seorang desainer / penulis / pelukis ditemukan duduk terdiam menghadapi selembar kertas kosong selama berjam-jam. Atau menarik satu - dua garis lalu kembali termenung… blank.

Penderita Autis dikabarkan sulit untuk berkonsentrasi, gimana dengan orang kreatif…? Biasanya seorang kreatif, kalo dihadapkan pada suatu deadline tapi pikiran sedang nggak tune-in, boro-boro bisa mulai kerja… yang ada malah ngelantur dulu kesana-kemari ngerjain yang nggak perlu dikerjain tapi somehow dianggap crucial… misalnya beresin kamar, cuci mobil, atau nonton film… apapun hal yang gw anggap bisa bikin kembali berkonsentrasi penuh pada pekerjaan.

Sedangkan mengenai “hidup dalam dunianya sendiri?”, apa ada kesamaan antara penderita Autis dan orang kreatif? Umm… silakan nilai sendiri.

So, kalau kita tarik benang merah antara kesamaan ciri-ciri tersebut, memang cukup jelas terlihat adanya suatu kemiripan traits antara ciri-ciri orang kreatif dengan ciri-ciri pengidap Autisme… Hmm.. Jadi betul kalau Creativism is a disorder? (bay)

Dikembangkan dari: http://kangbayu.multiply.com/journal/item/399

Komentar»

no comments yet - be the first?