Intuisi, Pentingkah? 18 April, 2008
Posted by kangbayu in Uncategorized. add a commentJadi inget salahsatu adegan di film “V for Vendetta”, waktu si kepala polisi ditanya sama Chairman, apa yang mendasari pemikiran kalau V bakalan nyerang melalui jalur KA subway yang telah ditutup? Dijawabnya “intuition” (or something alike). Terang aja si Chairman langsung nyinyir dan nyepelein masalah intuisi ini…
Benarkah intuisi itu gak penting?
Intuisi atau kadang disamakan dengan firasat, atau kadang orang bilang insting, adalah semacem bentuk perasaan yang entah gimana datengnya atau munculnya, tapi kira ngerasa itu bener.
Memang bagi manusia yang dah lama hidup secara gak “manusiawi”, kekuatan insting ini bisa sangat melemah, atau malah sengaja dibunuh si-pemilik karena merasa “Logic is God”; segala sesuatu haruslah terukur, terhitung, haruslah mempergunakan rumus baku, dll. Sehingga hal yang muncul dari alam bawah sadar ini (atau dari “indera ke-enam”) seringkali tidak memiliki tempat dalam pengambilan keputusan yang dilakukan si manusia.
Namun jangan lupa juga… alam pikiran manusia itu tidak semata-mata berisi tools untuk berhitung matematis, logis, dll., yang dunia ilmu modern ketahui adalah fungsi-fungsi umum dari otak bagian kiri. Manusia memilki juga otak bagian kanan, yang berfungsi secara lebih abstrak, misalnya pada penguasaan bahasa, penguasaan seni, serta kreativitas. Keseimbangan antara keduanyalah yang sebenarnya penting… walaupun seringkali pendidikan kita masih terlalu lugu untuk menyadari hal ini, sehingga tak jarang sekolah justru menjadi tempat pembodohan kelas wahid!
Selain dari dua hemisphere otak ini, jangan lupa juga bahwa otak bekerja tidak secara linear… dan bahwa memori yang disimpan diotak, tidaklah harus data-data biner layaknya pada otak komputer. Sudah tentu media penyimpanan otak manusia memiliki dimensi yang lebih luas dalam kemampuannya ini, karena ia bisa juga mengingat bau… raut muka… rasa… atau hal-hal yang tidak disadarinya namun muncul sebagai “kayaknya ada yang familiar deh sama dia ini…”.
Pembelajaran manusia sendiri seringkali menyisakan hanya intisari dan elemen-elemen dari apa yang pernah kita lakukan dan pelajari. Hasil penelitian juga menunjukkan kalau terkadang, otak justru lebih aktif pada saat si empunya tertidur… Apa yang kemudian dipercayai, adalah pada saat ini si otak sedang secara aktif melakukan linking antar sel-selnya, atau lebih tepatnya, antara fragmen-fragmen informasi yang ia pelajari hari itu, terhadap fragmen-fragmen informasi yang telah ada sebelumnya dalam bank datanya. Inilah yang membuat otak manusia memiliki kemampuan berpikir yang melebar dan meluas… berbeda dengan otak komputer yang cenderung linear dan tidak auto-managing.
Apa yang kita pelajari secara sadar, dan diulang-ulang selama sekian lama, akan menimbulkan suatu jenis memori bawah sadar yang ketika diaktifkan, maka ia akan “terjadi” tanpa harus kita pikirkan lagi bagaimana caranya. Contohnya disini misalnya, dalam studi beladiri… Suatu gerakan jurus yang kita lakukan secara rutin, lama-kelamaan bisa keluar mengalir lancar tanpa perlu kita pikirkan lagi detailnya… apakah kaki kiri melangkah duluan, kaki kanan melangkah duluan? Selanjutnya diikuti dengan tangkisan tangan kiri? Atau kanan? Itulah sebabnya mengapa dalam disiplin ilmu beladiri, ban hitam atau “black belt” sebenarnya bukanlah pencapaian tertinggi dari si pelajar… namun justru tingkatan yang menyatakan kalau ia telah “menguasai teknik-teknik dasar, dan siap untuk belajar seni-nya”.
Begitu pula halnya terhadap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari… atau secara rutin… atau kita pelajari betul sehingga mengerti luar-dalam mengenainya… maka pasti akan ada suatu kesimpulan bawah sadar yang kemudian terbentuk, disimpan entah dimana, dan kemungkinan akan tiba-tiba muncul ketika algoritma sensor diotak kita mendeteksi serangkaian “flag”, atau ciri-ciri khas, yang kemudian membangkitkan kesimpulan bawah sadar tersebut. Sulit dimengerti memang, apalagi untuk dipetakan… namun kesimpulan bawah sadar ini sebenarnya adalah suatu bentuk kecanggihan manajemen data dari sang otak… yang membuat si manusia tidak mudah merasa over-loaded dengan informasi yang ia miliki, karena semuanya itu secara rutin disederhanakan oleh sang otak kepada suatu bentuk pemahaman yang abstrak. Inilah intuisi… buah pemahaman abstrak dari hasil pembelajaran intensif kita terhadap suatu permasalahan.
Maka jangan aneh kalau sang bunda bisa menebak anda sedang berbohong atau tidak
Jangan aneh kalau anda bisa merasa akrab pada seseorang padahal baru bertemu sekali
Mengetahui akhir dari suatu proyek padahal samasekali belum dimulai
Menebak selera client berdasarkan gaya bicaranya
Dan lain-lain…
Ada orang yang lantas meremehkan intuisinya ini sehingga kehilangan suatu feature penting dari otak… Ada juga yang lantas menyerah pada intuisinya sehingga apa-apanya terlalu berpaku pada intuisi… Padahal… Intuisi, bagaimanapun, secara general adalah “kerak” dari hasil proses pembelajaran manusia… Jika yang ia pelajari selama ini sudahlah benar, maka biasanya intuisinya juga tepat… namun jika selama ini sipemilik jarang belajar, maka intuisinya juga akan tumpul atau tidak tepat….
Dan jangan juga lalai… “rasa” dari intuisi tidaklah berbeda jauh dengan “rasa” dari emosi, takut, khawatir, yang semuanya adalah abstrak dan sama-sama berasal dari alam bawah sadar. Namun dengan pembelajaran juga, kita akan mudah mengenali mana yang intuisi, mana yang firasat, mana yang negativisme, mana yang dari setan, mana yang sekedar produk dari mekanisme kekhawatiran, dll.
Pada hewan, kasusnya lebih simple… pemikiran mereka biasanya murni intuitif sehingga dalam mengeksekusinya seringkali tidak ada keraguan. Melihat ada mahluk asing dekat anaknya yang masih bayi? SERUDUK! Melihat ada pejantan lain didaerah kekuasaan? SERANG! Tanpa ada pikir panjang apakah si mahluk asing tadi mungkin hanyalah reporter dari Geographic Channel yang kagum akan keindahan rupa anaknya, atau justru anggota WWF yang berniat menyelamatkan si hewan dari kepunahan.
Pada manusia… intuisi juga sebenarnya penting… karena ia bisa memberikan informasi dan “bocoran” terhadap apa yang sedang kita hadapi… Pada mereka yang memang terlatih, intuisi ini seringkali bisa membantu menyelesaikan masalah yang membutuhkan banyak waktu jika dilakukan oleh orang awam…
Namun bagi kita yang masih belajar… janganlah intuisi ini dijadikan “fatwa” atau belenggu, tapi cukup sebagai referensi dan peringatan… apalagi kalau kita masih belum bisa membedakan yang mana intuisi, yang mana “setan”, yang mana “malaikat”.
Ada orang yang keliatannya gak pernah kaget ngadepin kejutan apapun? Mungkin karena ia cukup memperhatikan apa kata intuisinya, dan diam2 dalam otaknya sudah tersusun “plan B” untuk mengantisipasi seandainya “bisikan nalurinya” memang terjadi…. Ada orang yang keliatannya tau betul peluang bisnis mana yang paling tepat buat dijalanin? Mungkin karena hal yang sama juga.
Tapi kala ada orang yang kerjaannya curiga melulu sama orang lain? Nganggap buruk terus sama orang lain? Itu bukan intuisi, itu NEGATIVISME.
Tambahan:
Bisa jadi juga bahwa salahsatu hasil dari proses pembelajaran manusia, adalah otak membentuk semacam “template-template”. Jadi ketika sensor otak mendeteksi munculnya elemen-elemen yang familiar dan cocok dengan elemen-elemen template tersebut, maka ia akan menelorkan suatu dugaan awal bahwa bentuk akhir dari perkara yang baru akan terjadi tersebut akan serupa dengan template yang sudah tercetak dalam memorinya tersebut, alias sudah bisa diperkirakan bagaimana akhirnya.
Dan bisa jadi kualitas dari sensor maupun ketepatan dari perkiraan ini ya tergantung pada seberapa baiknya proses belajar yang sudah dijalani si manusia.
Sekian. (bay)
Dari: http://kangbayu.multiply.com/journal/item/370
Lapisan Kulit Persepsi
Posted by kangbayu in Uncategorized. add a comment
Minggu pagi di acara talkshownya Oprah, salahsatu guestnya adalah seorang “dog whisperer” kawakan. Apa itu gerangan “dog whisperer”? Secara gampangnya ini adalah nama dari profesi psikolog khusus untuk anjing! Secara susahnya? Cari ndiri di Wikipedia atau Google yah.
Sempat terlontar di acara itu, bahwa seekor anjing haruslah di-treat sebagai “anggota kelompok” dengan si pemilik selalu bertindak sebagai pemimpinnya alias “leader of the pack”. Kenapa? Karena secara natural, anjing itu mahluk kelompok (beda dengan kucing yang individual). Kesalahan treatment pada mereka akan berakibat perkembangan psikologi yang nggak baek… Dari acara ini juga diketahui kalau Oprah ternyata bukan leader of the pack yang baik… untuk si anjing. Jadi walaupun Oprah memiliki kemampuan kharisma yang luar biasa dalam menyentuh kehidupan orang lain dalam acara-acara TVnya, namun ternyata terhadap ajingnya, she’s a mother. Dan dalam role-nya sebagai mother, she’s emotional dan protective… yang membuatnya gak bisa jadi pemimpin yang baik!
Setelah melalui serangkaian proses, baik Oprah dan anjingnya akhirnya saling belajar untuk menempati posisi psikologis yang “benar”; Oprah sebagai kunci dari perkembangan psikologis si anjing, harus lebih menempatkan dirinya sebagai “leader of the pack” bukannya “mother”.
“Tapi dia ini seperti anak saya… salahkah itu?” sambung Oprah << (terjemahan tentu!)
“Nggak, nggak salah, tapi coba juga lihatnya dari sisi euh… natural! alamiah!” sambung si dog whisperer…
Anjing itu… pertama-tama adalah “hewan”… kemudian adalah “ras”… dan barulah terakhir, muncul “nama”… maksudnya, ada PRIORITAS SIKAP ketika kita menghadapi seekor anjing. Yang pertama harus dimengerti adalah sifat dan karakter dia sebagai seekor hewan (butuh berkelompok, butuh pemimpin), lalu sebagai “ras”, maksudnya beragam jenis anjing memiliki karakter berbeda, dan terakhir… sebagai “nama”, atau sebagai individu yang kita kenal…
Ini sangat menarik… karena kadangkala kita sulit menerapkan suatu susunan prioritas sikap yang benar, sehingga tindak-tanduk kitapun akhirnya salah arah…
GOTCHA! (atau mungkin “Eureka”, kalau saya hidup dijaman Archimedes)
Ada pengertian baru yang muncul dan tertata dalam akal saya…
Anak bandel, gak bisa diatur? mungkin karena dalam berhubungan dengannya, kita terlalu mengedepankan “protective terhadap anak”, bukan mengantisipasinya dalam urutan yang tepat: manusia - individu - anak. Iya kita boleh saja sayang anak… tapi seringkali sifat ini malah kontra-produktif terhadap perkembangan kejiwaan si anak sebagai manusia, dan sebagai individu. Kalau dari awal sudah terlalu dilindungi, kapan si anak akan memiliki kekuatan mental? Kalau apa-apa diturut karena kasihan dan sayang sama anak, kapan si anak akan mengerti mengenai jerih payah dan benar vs. salah? Adapun yang akhirnya ia tau dan mengerti semata2 adalah “kalau saya mau, saya harus dapet”.
Dan disisi berlawanan, kalau kita merasa berhak menghukum anak karena ia “anak saya”, tanpa memperhatikan statusnya sebagai manusia dan individu, maka dijamin perkembangan psikologisnya pun akan terganggu. Merasa ia “anak saya” jadi bebas saja diberi hukuman yang tak manusiawi sekalipun? Dipermalukan didepan teman-temannya? Digampar didepan orang banyak? Siap2lah punya anak yang psycho… atau pas udah gede ntar jadi musuh anda yang paling mengerikan, sekaligus sumber segala rasa penyesalan anda.
Calm assertiveness dan authority, itu yang katanya perlu dipancarkan oleh sang tuan terhadap sang anjing. Tempatkan diri sebagai “kepala geng”, pede dan kalem, tapi berkuasa… Inget karakter “Bullywif” di film “The 13th Warrior”? Pimpinan suku Viking yang cool, gagah, sedikit cakap, tapi seakan memiliki tali kekang ke tiap leher dari anakbuahnya.
Trus ada kejadian lain yang lucu, waktu Oprah mengetahui kalau ternyata si anjing mungilnya itu, dalam proses penyembuhannya akan diperkenalkan dengan “balanced dogs” (anjing2 bermental stabil dan seimbang), dimana salahsatunya adalah dari jenis Pitbull, serta dua lainnya dari jenis French Hound… Oprah khawatir… Sementara dengan kalemnya, si dog whisperer bilang..
“Don’t worry, they’re just energy… with different covers”
[”Jangan khawatir, mereka hanyalah energi… dengan bungkus yang berbeda-beda”]
“See this lash? It’s a 35cent lash but it channels my calm assertiveness to the dog, that’s what really in effect”
[terjemahin ndiri ah]
Oh so true… sebagaimana manusiapun sebenarnya hanyalah jiwa dibalik raga… Bahwa apa yang kita suapkan ke anak kita adalah kasih sayang, bukan makanan… bahwa kala kita berbicara dengan seorang teman, yang kita ajak ngobrol adalah jiwanya, bukan tampang cantik/ tampan/ lusuh/ bego/ ceria/ kusut/ ramah/ emoticon nya… cobalah untuk mengerti dimana perbedaannya… nanti kalo dah bisa gini, gak ada lagi istilahnya gemeteran ngobrol/deketan sama orang cakep/ cantik/ sangar.
Mari kita coba selalu berusaha untuk menerapkan pelapisan kulit persepsi yang benar terhadap apa-apa yang kita hadapi setiap harinya, semoga bisa kelak bantu menularkan kestabilan mental dan psikologis kepada lingkungan disekitarnya. (bay)
Gambar GIS Layers dari www.dpi.vic.gov.au
Sekolah Tinggi-tinggi Membuat Pintar?
Posted by kangbayu in Uncategorized. add a comment
Banyak orang menyimpulkan pintar itu identik dengan serba tahu sehingga tidak pernah perlu bertanya. Ini paham yang sesat… orang justru bisa menjadi pintar dengan banyak-banyak bertanya. Dan setelah pintarpun, kebiasaan ini tidak akan berubah.
Suatu hari, diatas bis 213 menuju kantor…
Seorang pemuda yang berdiri dikoridor bis itu sebelah matanya tidak bisa menutup dengan pas… pandangannya dari mata ini juga terlihat “kosong”, dan ada kilatan yang aneh… jadi bisa saya perkirakan kalau matanya itu hanyalah mata keramik, sama seperti yang dimiliki oleh salahseorang rekan kerjaku dulu, di perusahaan yang lama. Temanku itu dulu, sebutlah Heri, kehilangan matanya dalam suatu peristiwa kecelakan…. Namun anehnya, walaupun memiliki hanya sebelah mata namun kemampuan kerjanya bagus… bahkan kerapian dan ketekunannya jauh diatasku yang pemalas ini. Aneh… heran… padahal Heri “hanyalah” lulusan dari perguruan tinggi swasta yang dulu namanyapun aku tidak tahu… beda denganku yang lulusan dari sebuah perguruan negeri ternama yang terkadang dengan menyebut namanya saja, sudah mengundang reaksi berlebih dari orang yang kita ajak bicara.
Jadi apa sebenarnya perbedaan diantara kami? Dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan ketrampilan khusus ini, ternyata ia memiliki performance yang lebih baik dariku. Padahal matanya hanya satu… yang mana dalam teori, berarti pandangannya itu tidak stereo, alias kemampuan melihat secara 3 dimensinya akan berkurang banyak…. Hehehe… jadi teringat peristiwa dahulu sewaktu masih duduk dibangku SD. Dalam permainan bola, ada seorang temanku, sebutlah Tedi, yang sebelah matanya harus ditutup perban sehingga hanya sebelah matanya saja yang bisa melihat. Waktu itu ada umpan lambung dari pemain belakang kearah Tedi, dan ternyata ia hanya bisa berdiri tergagap lalu menyundul angin, karena bolanya masih berjarak sekitar setengah meter didepan dia… itulah salahsatu hal yang mungkin terjadi kala daya pandang kita berkurang dari stereo, menjadi mono.
Kembali ke masa-masa kuliah, dari pengamatanku sendiri aku melihat, bahwa tidak semuanya mahasiswa yang katanya disaring dengan ketat ini, memiliki semangat belajar yang tinggi… Dan akhirnya pun, setelah bersusah payah bergelut memperebutkan 86 kursi dari sekitar 5000an peminat, banyak diantara teman-temanku ini yang berguguran… Kalau bukan karena alasan klasik; dana, alasan lainnya yang umum adalah hilangnya minat. Wow… mungkin kalau dari dulu kursinya itu diserahkan pada peminat lain, akhirnya tidak akan seperti itu dan negara tidak keluar uang dengan sia-sia (jaman itu biaya kuliah sebagian ditanggung negara)… Tapi yah itulah dinamika hidup dimasa lulus SMA… berlomba-lomba ikutan ujian masuk Perguruan Tinggi, mengadu kemampuan diantara ratusan ribu lulusan lainnya, untuk mendapatkan pendidikan tinggi baik yang murah… karena kalau tidak, mungkin biaya tak akan terbayar, dan otomatis jika tanpa gelar, maka mencari pekerjaan yang layak di Indonesia adalah hal yang sangat sulit… Atau mendapat sekolah swasta yang kurang baik, dan akhirnya terbawa nyungsep.
Tapi dari hasil pengamatan pula, ternyata dari sekian banyak lulusanpun, tidak semuanya memiliki kualitas yang memuaskan… ada rekan yang lantas merasa kalah setelah berjuang bertahun-tahun tidak mendapat kerja, lantas memilih pulang kampung untuk membuka warnet dengan modal dari orang-tua. Ada rekan yang merasa kurang kompeten dibidangnya, lantas banting setir ke bidang lain (diketik sambil mengamati bayangan diri di cermin).
Sistem penyaringan UMPT yang salah…
Adalah suatu kesalahan dalam sistem penyaringan masuk mahasiswa di perguruan2 tinggi, yang menyebabkan hanya terujinya sebagian saja dari kualitas yang diperlukan, dan terabaikannya kualitas-kualitas yang lain. Tapi apa sih buatan manusia yang sempurna? Semuanya penuh dengan tambal sulam dan bongkar pasang… tapi kalau itu yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu, maka sewajarnya itulah yang harus dipakai…
Jadi ketika seorang calon mahasiswa dinyatakan lulus ujian menggambar, ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta serangkaian psikotest, maka iapun dianggap memiliki sebagian besar dari faktor-faktor yang diperlukan baginya untuk menempuh kehidupan sebagai seorang mahasiswa Seni Rupa / Desain. Masalah apakah ia memiliki kemampuan untuk menamatkan, atau bahkan untuk berkembang menjadi ahli dibidangnya, adalah suatu hal yang akan diurus kemudian…
Dan bagi si mahasiswa sendiri, apakah penerimaan ini berarti perjuangan selesai?
Sayangnya banyak yang menganggap demikian… Padahal tahun-tahun ia menjalani kuliah adalah tahun yang membutuhkan kerja keras dan daya juang… bukan semata-mata karena ia adalah mahasiswa maka pe-ernya harus lebih banyak… tapi karena kelulusan tanpa kualitas, adalah seperti cangkang tanpa isi… si kulit mungkin saja indah, dan membantunya untuk mendapatkan banyak kesempatan di dunia kerja, terima kasih kepada prestasi baik yang telah dibangun oleh para seniornya dari tahun ketahun… Namun bekerja, itu bukanlah pameran cangkang… kerja justru lebih, dan sangat terkait dengan “isi” dari si lulusan; yaitu kualitas wawasan dan skill (ketrampilan) dari si siswa.
Itulah sebabnya, mengapa mereka yang kurang beruntung dalam perolehan tempat kuliah, mereka yang putus kuliah, mereka yang bahkan tidak sempat mengenyam bangku kuliah, masih bisa bersaing dengan mereka yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi terkenal jika memiliki “isi” yang memang berkualitas! Bill Gates misalnya, pendiri Microsoft sekaligus salahsatu manusia terkaya dimuka bumi ini, bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya…
Namun tentunya, mereka yang memiliki cukup bekal dan persiapan adalah mereka yang lebih mungkin untuk berhasil. Dunia banyak dipenuhi cerita mengenai mereka yang oh so brilliant sehingga bisa mencapai prestasi luar biasa yang mengalahkan kolega-koleganya yang lulusan perguruan terkenal. Namun jangan lupa bahwa mereka para “anomali” ini hanyalah sebagian kecil dari orang-orang brilliant yang pernah, sedang, dan akan menorehkan tintanya pada sejarah dunia. Dan banyak diantara orang-orang ini adalah orang yang terpelajar.
Jadi kalau ternyata antara lulusan sekolah ternama dan lulusan sekolah antah berantah dan nggak lulus sekolah, semuanya bisa bersaing dengan kekuatan yang berimbang… lantas dimanakah bedanya? Apakah hal yang sebenarnya mendasari keberhasilan seorang manusia?
“USAHA DAN DAYA JUANG”
Perguruan Tinggi manapun hanyalah berfungsi sebagai suatu pemberi kesempatan, kesempatan pada mahasiswanya untuk mendapat akses terhadap materi-materi pembelajaran yang langka, yang sekiranya tidak bisa atau sulit untuk diakses oleh rekan-rekan sejawatnya yang tidak sekolah. Kesempatan untuk berinteraksi dengan para dosen yang memiliki segudang pengalaman dan ilmu, kesempatan untuk bergaul dengan sesama mahasiswa yang memiliki ketertarikan beragam, kesempatan mendapatkan peluang-peluang khusus dari dunia industri yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, dan serangkaian kesempatan-kesempatan lain yang tidak dengan mudah bisa didapat oleh mereka berada diluar dunia perguruan tinggi…
Namun sebagaimana halnya kesempatan, maka ia baru akan memberikan hasil jika disambut dan dimanfaatkan… Jadi ketika disatu sisi perguruan tinggi bertugas untuk menyediakan segudang kesempatan, maka selebihnya adalah tanggung-jawab si mahasiswa sendiri untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut.
Malas? Statik? Mungkin masih bisa memperoleh ijazah… tapi pepesan kosong, cangkang tanpa isi, toples isi angin, dummy henpun di etalase, pistol padahal geretan, a bluff.
Nggak kuliah tapi tetap teguh kukuh dalam belajar? Kebetulan saya memiliki contoh yang sangat dekat dari ibunda yang “cuma” lulusan sekolah setingkat SMA, tapi di masa-masa puncak karirnya ternyata mampu untuk “menggebrak” cukup keras… Selain memiliki sekolah pendidikan sekaligus menjadi pengajarnya, memiliki beberapa lulusan master sebagai asisten, beliau juga membentuk perusahaan yang sanggup membantu pemerintah menyelenggarakan program-program nasional, hingga mengorganisir konferensi bertaraf internasional. Itulah kekuatan daya juang…
Sedangkan anaknya ini, hehe… banyak peluang terlewatkan karena beragam alasan… takutlah, malaslah, nggak pede lah… hal-hal yang sering membuat ibunda geram dan geregetan karena merasa saya ini memiliki potensi… tapi kurang memiliki nyali…
Maap ya bu, tapi saya sedang belajar berani juga koq… 
Mengganti cara pandang…
Kembali ke masalah kedudukan perguruan tinggi sebagai institusi pemberi kesempatan, maka sebenarnya dunia kerja kita sekarangpun (buat yang sudah bekerja), adalah suatu institusi lain yang juga menawarkan beragam kesempatan… kesempatan berlatih memanage kerjaan, kesempatan berlatih berinteraksi dengan rekan kerja, kesempatan berlatih menghadapi client, kesempatan berkomunikasi dan menyerap ilmu client, kesempatan berlatih bidang kerja yang tadinya diluar skill dasar kita, kesempatan mengenal beragam karakter manusia, kesempatan mengenal politik kantor dan politik dunia kerja secara umum, dan kesempatan-kesempatan lainnya yang menunggu untuk kita manfaatkan.
So, siap untuk sejenak mengganti cara pandang anda, dan tela’ah kesempatan apa saja yang sebenarnya menanti dibalik segala rutinitas yang anda geluti saat ini? Dibalik hal-hal yang anda takuti dan hindari? Siapa tau anda malah menemukan “sesuatu” yang tadinya tak terpikirkan, kesempatan-kesempatan yang malah berpotensi untuk mengubah jalan hidup anda.
Selamat mikir! Dan jangan lupa untuk terus berkarya, selagi masih ada waktu, tenaga, dan kesempatan. (bay)
Creativism Disorder
Posted by kangbayu in Uncategorized. add a commentWaktu sakit dan males ngapa-ngapain, salahsatu kegiatan wajib gw adalah catching up ama koleksi DVD yang selalu bertambah tapi gak pernah ditonton-tonton. Sekarang sih gw rada random dan cuek dalam milih film… beda sama dulu ketika gw bakalan beli film cuma kalau film itu masuk top list nya imdb.com. Pertimbangannya dulu; time is precious! Dua jam yang gw habiskan nonton film gak mutu adalah sama dengan ngurangin sisa umur gw dua jam buat kegiatan gak mutu! Plus, walaupun cuma goceng, duit is duit.
Tapi karena jumlah film bermutu makin berkurang… plus makin sulitnya nemu film indie atau oldies yang bagus di pasaran, maka kriteria gw dalam milih film pun makin melonggar. Terlebih, dengan semaraknya genre baru di pasaran DVD bajakan Jakarta: Asian movies. Sayangnya, susah nyari review atas film2 Asia… padahal kualitas karya sineas Jepang, Korea, Thailand, sudah jauh lebih maju dan bisa dibilang setara dengan rekan-rekannya di Eropa dan Amrik sono… plus, banyak film Asia berani buat menampilkan ide yang original dalam ceritanya… suatu oase yang hijau ditengah kegersangan tema perfilman Barat dengan Hollywodism-nya yang mulai basi, yang seringkali asik dimata tapi nggak menggugah.
Salahsatu film yang masuk dalam daftar tunggu ini adalah film Korea (Selatan) yang berjudul “Marathon”. Setelah gw terkagum-kagum setengah mampus dengan “Musa”, “Fighter in The Wind”, dan terhibur dengan film-film ringan semacem “My Sassy Girl”, maka kemunculan film Korea di pasaran termasuk salahsatu yang gw tunggu-tunggu.
“Marathon” (2005) diangkat dari kisah nyata, menceritakan kehidupan Cho-Won, seorang penderita autis yang sejak kecil dilatih oleh ibunya untuk menjadi seorang jago lari. Kebiasaan ini ternyata membantu perkembangan pribadi si anak, menjadi lebih stabil dan berprestasi. Setelah melalui serangkaian drama terkait masalah keluarga dan cinta-kasih, cerita mencapai klimaksnya dalam event lomba marathon dimana Cho-Won berhasil memasuki garis finish dalam waktu dibawah tiga jam, suatu prestasi yang sulit diraih oleh pelari marathon profesional sekalipun. Prestasi ini sekaligus memecahkan rekor nasional Korea Selatan. Suatu film yang mengharukan…
Kreativitas itu suatu kelainan medis?
Satu hal lain yang cukup membekas dalam pikiran setelah menyaksikan film ini, adalah perkataan ibu guru Cho-Won mengenai Autisme… Bahwa penderita kelainan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Nyaris tidak memiliki interest terhadap apapun
- Sulit untuk berkonsentrasi
- Hidup dalam dunianya sendiri
Somehow uraian tersebut membuat gw mikir, terkait dengan salahsatu tulisangw lainnya, dimana gw mengutip salahsatu artikel kedokteran mengenai “miripnya kondisi otak seorang penderita kelainan jiwa, dengan seorang yang dianggap kreatif” (nag lho!). Para ahli menduga, orang-orang kreatif sebenarnya memiliki kerusakan jaringan otak, dalam taraf yang sama rusaknya dengan yang terdapat pada para pasien gangguan kejiwaan!Sementara kalau dipikir-pikir, dunia telah mengenal baik adanya suatu anggapan umum mengenai para seniman / desainer / penulis / artis, dan profesi lainnya terkait kreativitas, yang menyatakan bahwa mereka hanya bisa berkarya kalau sudah “dapet wangsit”. Sekedar mitos? Go ask ur creative friends.
Pendidikan terstruktur memang dapat membantu mengurangi kesenjangan yang membuat profesi kreatif memiliki pijakan lebih solid dibanding sekedar wangsit yang turun tanpa bisa diduga kapan waktunya, atau ketergantungan terlalu tinggi pada siklus bulan / air pasang / horoskop / dan hal-hal abstrak lainnya. Dengan pendidikan, si kreatif akan dilatih untuk memperlengkapi dirinya dengan beragam tools untuk menjaring hal abstrak nan langka yang bernama “ide unik”, tanpa harus berguru pada dukun maupun daun ganja.
Namun walaupun telah terdidik dan terlatih, tak jarang seorang desainer / penulis / pelukis ditemukan duduk terdiam menghadapi selembar kertas kosong selama berjam-jam. Atau menarik satu - dua garis lalu kembali termenung… blank.
Penderita Autis dikabarkan sulit untuk berkonsentrasi, gimana dengan orang kreatif…? Biasanya seorang kreatif, kalo dihadapkan pada suatu deadline tapi pikiran sedang nggak tune-in, boro-boro bisa mulai kerja… yang ada malah ngelantur dulu kesana-kemari ngerjain yang nggak perlu dikerjain tapi somehow dianggap crucial… misalnya beresin kamar, cuci mobil, atau nonton film… apapun hal yang gw anggap bisa bikin kembali berkonsentrasi penuh pada pekerjaan.
Sedangkan mengenai “hidup dalam dunianya sendiri?”, apa ada kesamaan antara penderita Autis dan orang kreatif? Umm… silakan nilai sendiri.
So, kalau kita tarik benang merah antara kesamaan ciri-ciri tersebut, memang cukup jelas terlihat adanya suatu kemiripan traits antara ciri-ciri orang kreatif dengan ciri-ciri pengidap Autisme… Hmm.. Jadi betul kalau Creativism is a disorder? (bay)
Dikembangkan dari: http://kangbayu.multiply.com/journal/item/399